Bahan Ajar Fikih Kelas 6 MI
Materi Fikih kelas 6 MI berdasarkan Kurikulum KMA No. 183 Tahun 2019 berfokus pada muamalah (hubungan antar manusia dalam kehidupan sosial) dan makanan-minuman . Berikut rincian materinya:
A. Makanan dan Minuman
1. Makanan Halal
Segala sesuatu yang dapat dikonsumsi manusia dan diperbolehkan dalam syariat Islam . Syarat makanan halal:
- Halal zatnyaย (bukan bangkai, darah, atau babi)
- Halal cara memperolehnyaย (bukan curian atau hasil riba)
- Halal cara mengolahnyaย (tidak menggunakan najis)
2. Makanan Haram
Makanan yang dilarang Allah SWT, di antaranya: bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih tidak atas nama Allah .
3. Minuman Halal
Minuman yang bersih, tidak merusak tubuh, dan tidak memabukkan . Contoh: air putih, air kelapa, jus buah, susu .
4. Minuman Haram
Minuman yang memabukkan dan merusak akal (khamar). Dalilnya QS. Al-Maidah ayat 90: “Sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan” . Contoh: wiski, brendi, tuak, bir .
B. Jual Beli
1. Pengertian Jual Beli
Seseorang yang menjual barang dagangannya kepada orang lain dengan harga tertentu disebut penjual . Ucapan penjual yang menyatakan niat menjual barang disebut ijab .
2. Hukum Jual Beli
Hukum asal jual beli adalah mubah (boleh) untuk mencari keuntungan . Namun, jual beli menjadi haram jika mengandung unsur curang, mengurangi takaran, atau menjual barang haram .
3. Rukun dan Syarat Jual Beli
- Penjual dan pembeliย harus berakal sehat dan balighย
- Ijab dan kabulย (ucapan serah terima)ย
- Saling ridhaย (sama-sama rela)ย
4. Khiyar
Khiyar adalah hak memilih (melanjutkan atau membatalkan transaksi) dalam jual beli . Macamnya:
- Khiyar Majelis: hak memilih selama masih dalam majelis akad
- Khiyar Syarat: hak memilih sesuai kesepakatan (misal 3 hari)
- Khiyar Aib: hak membatalkan jika ditemukan cacat barang
5. Jual Beli yang Terlarang
- Jual beli barang haram (babi, khamar, berhala)
- Jual beli dengan penipuan
- Jual beli dengan mengurangi takaran/timbanganย
- Jual beli barang curian atau hasil ghasab
C. Pinjam-Meminjam
Pinjam-meminjam dalam Islam disebut ‘Ariyah, yaitu memberikan manfaat suatu barang tanpa menghilangkan zatnya .
Rukun pinjam-meminjam:
- Orang yang meminjamkan (mu’ir)
- Orang yang meminjam (musta’ir)
- Barang yang dipinjamkan (mu’arah)
- Ijab dan kabul
Hikmah: Menolong sesama dan mempererat tali persaudaraan .
D. Ghasab (Mengambil Milik Orang Lain)
Ghasab adalah mengambil atau menggunakan milik orang lain tanpa izin dan melanggar haknya . Ghasab haram hukumnya dan pelakunya wajib mengembalikan barang serta bertanggung jawab jika barang rusak.
E. Luqathah (Barang Temuan)
Luqathah adalah barang temuan yang bukan milik kita. Jika menemukan barang, wajib mengumumkannya selama 1 tahun. Jika pemilik tidak ditemukan, barang bisa disedekahkan (untuk barang kecil) atau disimpan (untuk barang berharga) .
F. Rangkuman
Semoga bahan ajar ini bermanfaat! Apakah ada bagian dari materi yang ingin didalami lebih lanjut?
materi ajar fiqih kelas 6
Read 9 web pages
Bahan Ajar Fikih Kelas 6 MI
Berikut bahan ajar Fikih untuk kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang disusun berdasarkan Kurikulum KMA No. 183 Tahun 2019 . Materi ini mengacu pada buku teks resmi “Fikih MI Kelas VI” terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia tahun 2020 yang telah dinyatakan layak untuk digunakan dalam pembelajaran .
Fokus Utama: Berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya yang lebih banyak membahas ibadah mahdhah (ritual), materi Fikih kelas 6 berfokus pada Fiqih Muamalah, yaitu aturan-aturan Islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan sosial sehari-hari .
A. Makanan dan Minuman
1. Makanan Halal
Pengertian: Makanan yang halal adalah segala sesuatu yang dapat dikonsumsi manusia dan diperbolehkan dalam syariat Islam .
Syarat Makanan Halal (3 kriteria):
- Halal Zatnya:ย Bukan berasal dari benda yang diharamkan, seperti bangkai, darah, atau daging babiย .
- Halal Cara Memperolehnya:ย Diperoleh dengan cara yang benar, bukan curian, hasil riba, atau cara batil lainnyaย .
- Halal Cara Mengolahnya:ย Proses pengolahan tidak menggunakan bahan-bahan najis atau haramย .
2. Makanan Haram
Makanan yang dilarang Allah SWT, misalnya: bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih tidak atas nama Allah .
3. Minuman Halal
Minuman yang halal adalah minuman yang bersih, tidak merusak tubuh, dan tidak memabukkan . Contoh: air putih, air kelapa, susu, dan jus buah.
4. Minuman Haram
Minuman yang memabukkan dan merusak akal (khamar) hukumnya haram . Contoh: minuman keras seperti wiski, bir, tuak, dan sejenisnya. Hukum ini berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 90.
B. Jual Beli
1. Pengertian
Jual beli adalah transaksi antara dua pihak untuk menukar barang dengan harga tertentu. Orang yang menjual barang disebut penjual . Ucapan dari penjual yang menyatakan niat menjual barang disebut ijab .
2. Hukum
Hukum dasar jual beli adalah mubah (boleh) untuk mencari keuntungan .
3. Rukun dan Syarat Jual Beli
- Penjual dan Pembeli:ย Harus berakal sehat dan balighย .
- Ijab dan Kabul:ย Adanya ucapan serah terima antara penjual dan pembeliย .
- Saling Ridha:ย Kedua belah pihak sama-sama rela dan tidak ada paksaanย .
4. Khiyar (Hak Memilih)
Khiyar adalah hak untuk memilih (melanjutkan atau membatalkan) dalam transaksi jual beli . Macam-macamnya:
- Khiyar Majelis:ย Hak memilih selama masih dalam majelis akad (belum berpisah).
- Khiyar Syarat:ย Hak memilih sesuai dengan kesepakatan (misalnya, dalam tempo 3 hari).
- Khiyar Aib:ย Hak membatalkan jika ditemukan cacat pada barang yang dibeli.
5. Jual Beli yang Terlarang
- Jual beli barang haram (babi, khamar, berhala).
- Jual beli dengan penipuan.
- Jual beli dengan mengurangi takaran/timbangan (hukumnyaย haram)ย .
- Jual beli barang curian atau hasil ghasab.
C. Pinjam-Meminjam (‘Ariyah)
Pengertian: ‘Ariyah adalah akad pinjam-meminjam barang untuk dimanfaatkan tanpa menghilangkan zatnya .
Hikmah: Menolong sesama dan mempererat tali persaudaraan .
D. Ghasab (Mengambil Milik Orang Lain)
Pengertian: Ghasab adalah mengambil atau menggunakan milik orang lain tanpa izin dan melanggar haknya. Ghasab haram hukumnya . Pelaku wajib mengembalikan barang dan bertanggung jawab jika barang tersebut rusak.
E. Luqathah (Barang Temuan)
Pengertian: Luqathah adalah barang temuan yang bukan milik kita .
Kewajiban: Jika menemukan barang, wajib mengumumkannya selama 1 tahun. Jika pemilik tidak ditemukan, barang tersebut bisa disedekahkan (untuk barang kecil) atau disimpan (untuk barang berharga) .
๐ Sumber Referensi
- Buku teks resmiย “Fikih MI Kelas 6”ย terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia (KMA 183 Tahun 2019)ย .
- Bukuย “Fiqih untuk MI Kelas VI”ย terbitan CV Citra Pustakaย .
Semoga bahan ajar ini bermanfaat! Apakah ada bagian dari materi yang ingin Anda tanyakan lebih lanjut?
Bahan Ajar Fikih Kelas 6: Makanan Halal
Materi ini disusun berdasarkan Kurikulum KMA No. 183 Tahun 2019 dan merupakan bagian penting dari pembelajaran Fikih kelas 6 semester ganjil dengan fokus pada Fiqih Muamalah (hubungan antar manusia dalam kehidupan sosial) .
A. Pengertian Makanan Halal
Secara bahasa, makanan berarti segala sesuatu yang dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia, baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan, untuk menghilangkan rasa lapar dan memberikan tenaga bagi tubuh . Adapun halal secara bahasa berarti membolehkan atau membebaskan .
Secara istilah, makanan halal adalah segala sesuatu makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia dan diperbolehkan dalam syariat Islam . Dengan kata lain, makanan halal adalah makanan yang jika dikonsumsi tidak mengakibatkan dosa atau siksa bagi pelakunya .
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
QS. Al-Baqarah ayat 168: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi…”
B. Syarat Makanan Halal
Suatu makanan dapat dikatakan halal jika memenuhi 3 syarat utama :
Penting: Makanan yang halal zatnya, tetapi diperoleh dengan cara yang tidak sah (misalnya mencuri mangga tetangga), maka hukumnya menjadi haram karena cara memperolehnya tidak halal .
C. Contoh Makanan Halal
D. Yang Membatalkan Kehalalan Makanan
Suatu makanan yang sebenarnya halal bisa berubah menjadi haram karena beberapa hal :
E. Konsep Syubhat
Dalam Islam, ada istilah Syubhat, yaitu sesuatu yang tidak jelas status kehalalannya (masih samar antara halal dan haram) . Makanan atau minuman yang syubhat sebaiknya dihindari (ditinggalkan) untuk menjaga kesucian diri dan keimanan.
F. Hikmah Mengonsumsi Makanan Halal
Mengonsumsi makanan halal memiliki banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim :
- Dijauhkan dari segala macam penyakitย karena makanan halal umumnya baik dan bersihย
- Menjaga kesehatan tubuhย dan memberikan energi untuk beribadahย
- Mencegah kerusakan akal dan hatiย sebagaimana makanan haram dapat merusak
Bahan Ajar Fikih Kelas 6: Jual Beli
Materi ini disusun berdasarkan Kurikulum KMA No. 183 Tahun 2019 dan merupakan bagian penting dari pembelajaran Fikih kelas 6 semester genap dengan fokus pada Fiqih Muamalah (hubungan antar manusia dalam kehidupan sosial).
A. Pengertian Jual Beli
Jual beli secara bahasa (etimologi) berasal dari kata al-bay’i, al-tijarah, dan al-mubadalah yang artinya pertukaran sesuatu dengan sesuatu.
Secara istilah (terminologi), jual beli adalah pertukaran harta (benda) dengan harta (benda) lain yang bermanfaat dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan penggantinya melalui cara-cara yang dibolehkan Islam.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
QS. Al-Baqarah ayat 275: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
B. Hukum Jual Beli
Hukum dasar melakukan jual beli adalah halal (boleh/mubah). Jual beli menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup, menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat, dan dilakukan atas dasar kerelaan atau suka sama suka antara penjual dan pembeli.
C. Rukun Jual Beli
Rukun adalah hal-hal yang wajib ada agar jual beli menjadi sah. Jika salah satu rukun tidak terpenuhi, jual beli tidak sah. Rukun jual beli ada 5 :
Catatan: Menurut ulama Hanafiyah, rukun jual beli hanya satu, yaitu ijab dan kabul (ungkapan serah terima), karena menurut mereka yang menjadi rukun adalah kerelaan (ridha) kedua belah pihak.
D. Syarat Sah Jual Beli
Jual beli dapat terlaksana dan hukumnya sah apabila syarat-syarat berikut terpenuhi:
1. Syarat Penjual dan Pembeli
| No | Syarat | Penjelasan |
|---|---|---|
| 1 | Baligh | Telah dewasa |
| 2 | Berakal sehat | Tidak gila agar tidak tertipu dalam jual beli |
| 3 | Atas kemauan sendiri | Tidak ada paksaan (suka sama suka) |
Bahan Ajar Fikih Kelas 6: Pinjam-Meminjam
A. Pengertian Pinjam-Meminjam
Pinjam-meminjam dalam istilah fikih dikenal dengan sebutan ‘Ariyah (ุงููุนูุงุฑูููุฉู).
Secara bahasa, ‘Ariyah berarti meminjam sesuatu, atau mengeluarkan sesuatu dari tangan pemiliknya kepada tangan orang lain.
Secara istilah syariat, pinjam-meminjam adalah akad (perjanjian) berupa pemberian manfaat suatu benda yang halal dari seseorang (pemberi pinjaman) kepada orang lain (peminjam) tanpa imbalan, dengan ketentuan benda tersebut tidak rusak dan harus dikembalikan setelah dimanfaatkan.
Menurut para ulama, pinjam-meminjam merupakan hak untuk memanfaatkan suatu barang yang diterima dari orang lain tanpa imbalan, dengan ketentuan barang tersebut tetap utuh dan harus dikembalikan kepada pemiliknya.
B. Dasar Hukum Pinjam-Meminjam
Pinjam-meminjam merupakan perbuatan baik yang sangat dianjurkan dalam Islam, termasuk dalam bentuk tolong-menolong (ta’awun).
Dalil dari Al-Qur’an:
QS. Al-Maidah ayat 2:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
Dalil dari Hadis:
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskan kesusahannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Prinsip tolong-menolong inilah yang menjadi dasar utama disyariatkannya akad pinjam-meminjam dalam Islam.
C. Hukum Pinjam-Meminjam
| Hukum | Penjelasan |
|---|---|
| Asal Hukum | Mubah (boleh) – diperbolehkan dalam Islam selama pinjaman tersebut adalah sesuatu yang baik dan bukan untuk maksiat |
| Sunnah | Dianjurkan karena termasuk tolong-menolong dan amal kebaikan |
| Wajib | Menjadi wajib jika barang yang diminta sangat dibutuhkan oleh orang lain dan tidak ada orang lain yang bisa membantu, atau jika peminjam dalam keadaan darurat |
| Haram | Menjadi haram jika digunakan untuk kemaksiatan atau merusak barang yang dipinjam |
Catatan: Hukum pinjam-meminjam dapat berubah sesuai dengan kondisi dan niat pelakunya.
D. Rukun Pinjam-Meminjam
Menurut jumhur ulama, rukun ‘ariyah ada empat:
Bahan Ajar Fikih Kelas 6: Ghasab (Mengambil Milik Orang Lain)
Materi ini merupakan Bab VI dalam buku Fikih Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah terbitan Kementerian Agama RI Tahun 2020. Ghasab termasuk dalam kajian Fiqih Muamalah yang mengatur hubungan antar sesama manusia.
A. Pengertian Ghasab
Ghasab (ุบูุตูุจู) secara bahasa berarti mengambil secara paksa dan zalim. Dalam ilmu tasrif, kata ini berasal dari kata “ุบูุตูุจู – ููุบูุตูุจู – ุบูุตูุจูุง”.
Secara istilah syariat, ghasab adalah mengambil atau menguasai hak milik orang lain secara paksa dan terang-terangan dengan cara yang tidak benar (aniaya), meskipun memiliki niat untuk mengembalikannya.
Perbedaan Ghasab dan Mencuri:
B. Dalil Dasar Hukum Ghasab
1. Dalil dari Al-Qur’an
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 188:
“Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah [2]: 188)
Ayat ini secara umum melarang segala bentuk pengambilan hak orang lain dengan cara yang tidak benar, termasuk ghasab.
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Kahfi ayat 79 yang menceritakan tentang seorang raja yang zalim:
“…karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.” (QS. Al-Kahfi [18]: 79)
2. Dalil dari Hadis
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak halal mengambil harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan hatinya.” (HR. Ahmad)
C. Hukum Ghasab
Hukum melakukan ghasab dalam Islam adalah haram. Bahkan sebagian ulama menyebutnya sebagai makruh yang berat, karena konsekuensinya sangat serius.
Ghasab termasuk perbuatan zalim dan dosa karena Allah tidak menyukainya. Pelaku ghasab disebut ghasib.
D. Contoh Perbuatan Ghasab
E. Tanggung Jawab Pelaku Ghasab
Penting: Salat yang dikerjakan dengan menggunakan barang hasil ghasab hukumnya tidak sah (batal) karena menggunakan barang yang tidak halal.
F. Hikmah Dilarangnya Ghasab
G. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan pengertian ghasab sesuai syariat Islam
- Menyebutkan dalil-dalil tentang larangan ghasab
- Menjelaskan hukum ghasab dan alasannya
- Membedakan antara ghasab dengan mencuri
- Menyebutkan contoh-contoh perbuatan ghasab dalam kehidupan sehari-hari
- Menjelaskan tanggung jawab pelaku ghasab
- Menunjukkan perilaku menghindari ghasab dalam kehidupan sehari-hari
- Menjelaskan hikmah dilarangnya ghasab
H. Rangkuman
- Ghasabย = mengambil atau menguasai hak milik orang lain secaraย paksaย danย terang-teranganย dengan cara zalim.
- Perbedaan dengan mencuri: ghasabย terang-terangan, mencuriย sembunyi-sembunyi.
- Hukum ghasab adalahย haram.
- Pelaku ghasab wajibย mengembalikan barangย danย mengganti jika rusak/hilang.
- Salat dengan barang hasil ghasabย tidak sah.
- Hikmah:ย ketentraman, saling menghargai, dan keamananย masyarakat.
Semoga bahan ajar ini bermanfaat! Apakah ada bagian dari materi yang ingin didalami lebih lanjut?
Bahan Ajar Fikih Kelas 6: Luqathah (Barang Temuan)
Materi ini termasuk dalam Bab VII buku Fikih Kelas 6 Madrasah Ibtidaiyah terbitan Kementerian Agama RI Tahun 2020, dengan fokus kajian Fiqih Muamalah (hubungan antar sesama manusia).
A. Pengertian Luqathah
Luqathah (ููููุทูุฉู) secara bahasa berarti barang temuan atau barang tercecer.
Secara istilah syariat, luqathah adalah barang yang ditemukan di suatu tempat dan tidak diketahui siapa pemiliknya.
Istilah Terkait:
- Luqathah: barang temuan (umumnya benda mati)
- Dallah: barang temuan berupa hewan
- Laqit: barang temuan berupa anak kecil
B. Hukum Mengambil Barang Temuan
Hukum mengambil barang temuan (luqathah) tergantung pada kondisi dan kemampuan penemunya:
Penting: Barang temuan yang diambil menjadi amanah (titipan) di tangan penemu dan wajib dipelihara dengan baik.
C. Macam-Macam Barang Temuan
Berdasarkan jenisnya, barang temuan dibagi menjadi:
D. Ketentuan Mengumumkan Barang Temuan
Khusus untuk barang yang tidak tahan lama (seperti makanan basah), tidak bisa diumumkan selama 1 tahun. Penemu boleh menjualnya dan menyimpan uangnya, atau memberikannya kepada orang miskin dengan niat sebagai sedekah atas nama pemiliknya.
E. Tanggung Jawab Penemu Barang
F. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Luqathah
| Imam Mazhab | Pendapat |
|---|---|
| Imam Syafi’i | Mengambil luqathah hukumnya wajib bagi yang mampu, dan barang menjadi amanah di tangannya |
| Imam Malik | Mengambil barang temuan hukumnya makruh (tidak disukai) |
G. Hikmah Adanya Ketentuan Luqathah
H. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, siswa diharapkan mampu:
- Menjelaskan pengertian luqathah (barang temuan)
- Menjelaskan hukum mengambil barang temuan berdasarkan kemampuan penemu
- Menyebutkan macam-macam barang temuan
- Menjelaskan ketentuan mengumumkan barang temuan (waktu dan cara)
- Menjelaskan tanggung jawab penemu barang
- Menerapkan sikapย amanah dan jujurย dalam kehidupan sehari-hari
- Menjelaskan hikmah adanya ketentuan luqathah dalam Islam
I. Contoh Soal
- Luqathahย artinya ….
- Waktu yang ditentukan untuk mengumumkan barang temuan adalah ….
- Barang temuan setelah diambil maka segera diumumkan. Apabila dalam waktu satu tahun pemiliknya tidak muncul, maka penemu ….
- Bagi orang yang adil dan mampu memelihara barang temuan, hukum mengambil barang temuan baginya adalah ….
J. Rangkuman
- Luqathahย = barang temuan yang tidak diketahui pemiliknya.
- Hukum mengambil:ย wajibย (bagi yang mampu),ย sunnah/makruhย (bagi yang ragu),ย haramย (bagi yang tidak mampu).
- Barang temuan wajibย diumumkan selama 1 tahun.
- Jika pemilik muncul, barangย dikembalikan; jika tidak, penemuย boleh memilikinya.
- Penemu bertanggung jawab menjaga barang sebagaiย amanah.
- Hikmah:ย melindungi hak orang lain, mendidik amanah, dan menjaga kerukunan.
Semoga bahan ajar ini bermanfaat! Apakah ada bagian dari materi yang ingin didalami lebih lanjut?
Leave a Reply